Biografi Idi Amin
Idi Amin
Idi Amin lahir 17 Mei
1928 di Koboko, Uganda. Ia dibesarkan dalam keluarga Muslim. Amin memulai
pendidikannya di sekolah dasar. Ia tidak menyelesaikan pendidikannya. Amin
bergabung dengan tentara Inggris pada usia 18 tahun. Ia menjadi anggota King's
African Rifles. Amin menikah dengan Malyamu. Ia memiliki empat anak. Amin
memiliki 32 anak dari beberapa istri. Ia menjadi anggota pasukan kolonial
Inggris. Amin memulai karir militernya sebagai kopral.. Dikenal dengan julukan
"Penjagal Uganda", ia dianggap sebagai salah satu despot paling
terkejam dalam sejarah dunia.
Ayahnya, Andreas
Nyabire, dari Suku Kakwa, ibunya dari Suku Lugbara, dua suku yang bertetangga.
Akan tetapi, begitu Idi Amin lahir, kedua orangtuanya langsung berpisah.
Andreas Nyabire ketua suku Kakwa, berganti agama dari katolik roma menjadi
islam pada tahun 1910 (mualaf) dan mengganti namanya menjadi Amin Dada. Andreas
menamai anaknya sama dengan namanya Idi Amin Dada. Setelah bercerai Ibu Amin
langsung memboyong anaknya ke koloni Suku Nubia di Lugazi kurang lebih 40 km
dari Jinja, sebuah kota besar di tepi Danau Victoria, di mana banyak orang Nil
Barat yang menjadi buruh perkebunan gula. Tidak jelas apakah keluarga Idi Amin
ikut memburuh, tetapi yang jelas dia hidup berpindah-pindah mengikuti kamp.
Belakangan, ibu Amin pindah ke Buikwe, 18 km dari Jinja.
Idi Amin masuk sekolah
Islam di Bombo pada tahun 1941. Idi Amin meninggalkan bangku sekolah setelah
beberapa tahun kemudian dan melakukan pekerjaan serabutan sebelum akhirnya
direkrut oleh dinas militer Inggris.[8]Karier Idi Amin di dinas militer dimulai
dari dapur. Ketika beranjak remaja sekitar tahun 1943-1949, Idi Amin masuk
KAR(King's African Rifles) sebagai asisten koki, setelah sebelumnya menjadi
penjaja kue. Dalam Perang Dunia II Idi Amin ditugaskan ke Burma (Myanmar
sekarang). Kemudian ia ikut memadamkan pemberontakan pribumi Uganda yang
berpangkat perwira.
David Martin dalam
bukunya General Amin mengatakan, "Amin itu jenis prajurit yang disukai
oleh Perwira Inggris: bertubuh besar dan tidak berpendidikan. Menurut teori
mereka, orang semacam ini lebih taat pada atasan dan lebih berani di medan
pertempuran." Yang jelas, Idi Amin secara fisik cukup bagus. Ia tidak
hanya pemain rugby tetapi juara tinju kelas berat Uganda 1951-1960.
Bisa dimengerti jika
karier Idi Amin di kemiliteran cukup pesat, lebih-lebih karena ia akhirnya
dekat dengan pusat kekuasaan pada masa itu, Perdana Menteri Milton Obote. Dengan
kesadisannya dalam menghadapi pemberontakan atau kekacauan yang ditimbulkan
oleh suku-suku pencuri ternak, kadang-kadang Idi Amin menggunakan pendekatan
secara "kultural", misalnya terhadap Suku Karamajong yang belum
mengenal busana.
Pada awal 1962, Letnan
Amin sebagai komandan pleton dikirim ke Kenya barat laut untuk menghadapi suku
pencuri ternak, Suku Turkana. Hanya saja suku Turkana sudah menggunakan senjata
api. Beberapa pleton dari Company 'C' Kesatuan ke 4 KAR dikirim untuk menyerbu
dan menyita persenjataannya. Semua berhasil kecuali Idi Amin. Malu karena
kegagalannya, Idi Amin dan pasukannya kembali ke desa suku Turkana dan
melakukan serangan yang membuahkan sukses, tetapi beberapa hari kemudian muncul
protes dari Turkana karena ditemukan mayat-mayat di kubur-kubur dangkal.
Sir Walter Coults,
gubernur Uganda terakhir, ditelepon oleh Wakil Gubernur Kenya Sir Eric
Griffith-Jones yang melaporkan terjadinya pembantaian terhadap suku Turkana
yang melibatkan perwira militer Idi Amin. Namun, karena pertimbangan politik,
Idi Amin tidak diajukan ke pengadilan, berkat jasa Milton Obote yang beberapa
bulan menjadi Perdana Menteri. Sir Walter Coults memperingatkan Obote dengan
mengatakan "Perwira ini akan menyusahkan Anda di kemudian hari."
Barangkali inilah pesan
Coults yang diingat Obote ketika terjadi kudeta yang dilakukan Idi Amin ketika
menghadiri konferensi persemakmuran di Singapura, 25 Januari 1971. Obote tidak
pulang ke Kampala, Uganda, tetapi ke Darussalam, ibu kota Tanzania, negara
sahabatnya Presiden Julius Nyerere.
Dua hari kemudian, Idi
Amin membebaskan lima puluh orang tahanan politik yang ditahan Obote tanpa
alasan yang jelas sejak 1966. Ia juga melarang rapat umum dan kampanye politik.
Pemilu dijanjikannya paling tidak lima tahun kemudian. Ironisnya, dia menyatakan
zaman kekejaman sudah berakhir dan mengajak rakyatnya menuju zaman persahabatan
tanpa permusuhan.
Begitu Idi Amin
berkuasa, Uganda menjadi negara yang sangat terkenal di dunia internasional.
Pada bulan Agustus 1972, semua orang Asia berkewarganegaraan Inggris (60.000
jiwa) diberi waktu sembilan puluh hari untuk angkat kaki dari Uganda. Tindakan
ini bukan karena rasialisme, tetapi karena ia ingin memberikan
"kemerdekaan yang sesungguhnya bagi rakyat Uganda". Yang kalang kabut
tentu saja Inggris, yang para pejabatnya buru-buru menghubungi Australia,
Selandia Baru, dan negara-negara persemakmuran Inggris lainnya untuk
membicarakan penampungan, apalagi Kenya dan Tanzania menolak memberikan
penampungan terhadap para pengungsi. Sepuluh hari kemudian ditetapkan aturan
tambahan bahwa orang asing yang sudah menjadi warga negara Uganda harus pergi
dari Uganda. Jumlahnya sekitar 23.000 jiwa. Sudah tentu warga negara keturunan
asing yang lahir di Uganda kebingungan. Jika mereka pergi, status mereka adalah
tanpa negara (stateless). Ditambah lagi, India, Pakistan, dan Bangladesh
(negara asal mereka) menolak menerima kembali mereka. Ditambah pula dengan
kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik orang-orang Eropa di
Uganda. Idi Amin memang benar benar "memusingkan banyak orang".
Akibat keputusan ini,
timbul krisis ekonomi parah di Uganda. Sekitar 90 % perdagangan dan industrinya
dikuasai orang-orang Asia. Orang Uganda sendiri masih sangat agraris
tradisional dan kurang kecakapan, modal, dan keterampilan. Sebenarnya, rencana
pengusiran orang Asia sudah direncanakan oleh Milton Obote karena dirasakan
terlalu mencengkeram ekonomi Uganda, tetapi masih menargetkan waktu lima tahun,
dengan alasan mempersiapkan orang Uganda.
Pemerintahan Uganda
sedemikian kacaunya sehingga Komisi Hukum Internasional PBB melapor kepada
sekjen PBB saat itu, Kurt Waldheim pada tanggal 7 Juni 1974, yang isinya:
"Uganda adalah negeri tanpa hukum". Salah satu puncak krisis adalah
minta suakanya Menteri Keuangan Emmanuel Wakheya ke Inggris karena tidak tahan
lagi terhadap keputusan ekonomi yang diambil oleh pemerintahan rezim militer
Idi Amin.
Di awal 1977, William
Johnshon menulis laporan kepada harian Bangkok Post yang isinya: "Setelah
empat tahun berkuasa, Idi Amin telah mengubah kehidupan Uganda yang buruk. Dulu
negeri Uganda pengekspor teh dan kopi, tetapi karena sistem administrasi dan
transportasi yang buruk, ratusan karung kopi teronggok di gudang menunggu
diekspor, semetara puluhan ribu ton diselundupkan ke Kenya. Uganda dulunya
sebagai salah satu negeri tersubur di Afrika, kini hasil pertanian begitu
langkanya sampai penduduk kota menanam tebu dan pisang. Sabun, gula, dan gandum
diperlakukan seperti emas saking langkanya. Sementara di pedesaan hasil panen
begitu melimpah, penduduk kota tidak dapat menikmati hasilnya. Lima tahun lalu
beroperasi 298 bus yang dijalankan pe Idi Amin akhirnya terbang mengungsi ke Libya yang kemudian
meminta suaka ke Jeddah, Arab Saudi serta menetap di sana. Menurutnya, angka
kematian 100.000 sampai 300.000 orang yang dianiya dan dibunuh adalah akibat
kesalahan bagian intelijen. Bahkan Biro Riset Nasional mengancam akan
membunuhnya. Menurut Amin, banyak hal-hal buruk yang disembunyikan ketika dia
berkuasa. Ketika dia tahu keberadaan biro itu, semua sudah terlambat.
Namun, semasa Amin
belum jatuh, David Martin dalam artikelnya di South China Morning Post
membeberkan bagaimana Idi Amin mengetahui sepak terjang oknum-oknumnya. Ia
mengaku tidak ingin jadi Presiden, tentaranyalah yang memintanya, tetapi
mengenai pengusiran orang Asia dia mengatakan, "Mereka terlampau berkuasa
dan mencemooh kaum kami".
Idi Amin mempunyai
empat orang istri. Istri pertamanya adalah Sarah atau Mama Malian yang
dinikahinya pada tahun 1958, yang kedua Kay, yang ketiga Norah, dan yang
keempat Medina, yang dinikahinya pada tahun 1971. Pada awal tahun 1974 ia
ceraikan tiga istrinya yang pertama sehingga tinggal Medina. Pada 1 Agustus
1975, ia menikah dengan Sarah, seorang pembalap pasukan berani mati Angkatan
Darat Uganda. Empat bulan kemudian, dia menikahi Babirye putri seorang usahawan
Uganda. Waktu itu Idi Amin sudah mempunyai 70 orang anak.
Pada tanggal 20 Juli
2003, menjelang kematiannya di Rumah Sakit Raja Faisal di Jeddah, istrinya
memohon kepada Presiden Uganda Yoweri Museveni agar Idi Amin dikuburkan di
negaranya, tetapi permintaan ini ditolak. Idi Amin meninggal di Arab Saudi pada
tanggal 16 Agustus 2003 dan dimakamkan di Jeddah.
Pada tanggal 17 Agustus
2003, David Owen mengatakan dalam wawancara oleh Radio BBC bahwa ketika
menjabat sebagai Sekertaris Kementerian Luar Negeri Inggris (1977-1979), dia
memerintahkan agar Idi Amin dibunuh untuk mengakhiri rezim terornya. Usulnya
ditolak, tetapi alasan Owen adalah rezim Idi Amin sangatlah buruk, sangat
mengerikan bila dia dibiarkan berkuasa terlalu lama.merintah, kini cuma 11 yang
masih jalan."
1. Apa yang menyebabkan Idi Amin
bergabung dengan tentara Inggris? Jelaskan dengan argumentasi yang logis dan
faktual!
2. Bagaimana kebijakan pengusiran orang
Asia mempengaruhi ekonomi Uganda?
3. Apa dampak dari keputusan Idi Amin
untuk mengambil alih kekuasaan? Jelaskan dengan argumentasi yang
logis dan faktual!
4. Bagaimana kebijakan ekonomi Idi Amin
dibandingkan dengan Milton Obote?
5. Apa perbedaan antara rezim Idi Amin
dan pemerintahan sebelumnya?
6. Bagaimana Idi Amin membandingkan
dengan pemimpin Afrika lainnya pada masa itu?
7. Apakah kebijakan Idi Amin berhasil
mencapai tujuan yang diinginkan? Jelaskan dengan argumentasi yang logis dan
faktual!
8. Bagaimana menilai dampak kekuasaan
Idi Amin terhadap rakyat Uganda?
9. Apakah tindakan Idi Amin dapat dibenarkan dari sudut pandang politik atau etika? Jelaskan dengan argumentasi yang logis dan faktual!
10. Bagaimana kebijakan Idi Amin dibandingkan dengan rezim militer lainnya di Afrika
Comments
Post a Comment