Biografi Kaisar Nero
Kaisar Nero
Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus (15
Desember 37 – 9 Juni 68), yang lahir sebagai Lucius Domitius Ahenobarbus pada
bulan Desember tahun 37 M, adalah kaisar Romawi kelima dan terakhir dari
dinasti Julio-Claudian. Ia dikenal sebagai salah satu kaisar paling
kontroversial dalam sejarah Roma, dengan pemerintahannya yang berlangsung dari
tahun 54 hingga 68 M.
Nero berkuasa sejak tahun 54 sampai tahun 68,
yang fokus lebih besar dengan diplomasi, perdagangan, dan meningkatkan budaya
ibu kota kekaisaran. Ia memerintahkan pembangunan teater dan permainan atletik.
Kekuasaannya juga berhasil memenangkan perang dan berdamai dengan kekaisaran
Partia (58–63) dan menambah tali hubungan diplomasi dengan Yunani. Pada tahun
68, kudeta militer menurunkan Nero.[2]
Kekuasaan Nero sering berhubungan dengan
tirani dan kekejaman. Ia telah melakukan beberapa eksekusi, termasuk ibunya[4]
dan saudara kandung adopsinya, dan juga kaisar yang "membakar Roma"
dan pembunuh Kekristenan awal. Penglihatan ini dilihat berdasarkan referensi
dari Tacitus, Suetonius dan Cassius Dio.
Menurut catatan sejarawan Roma, Tacitus
(56–120 M), agar dapat mendirikan sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan
sengaja membakar kota Roma. Setelah kebakaran besar terjadi, penduduk Roma
umumnya percaya bahwa biang keladi kebakaran itu adalah Nero, namun Nero
mengkambinghitamkan umat Kristen sebagai penyebab kebakaran, dan menggunakan
cara yang sangat jahat untuk menghukum mereka. Dalam sebuah arena perlombaan,
sebagian umat Kristen ditutupi dengan kulit hewan lalu melepas serombongan
anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. Bagi
umat Kristen yang masih tersisa, Nero memerintahkan anak buahnya supaya
mengikat mereka bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di
dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan bagi Nero
yang lalim. Pengikut Yesus yang bernama Petrus dan Paulus meninggal dalam
penindasan itu.
Simon Petrus, menurut keyakinan dari pengikut
Gereja Katolik Roma, wafat setelah disalibkan oleh Kaisar Nero. Penyalibannya
dilakukan di Bukit Vatikan yang berada di bagian barat Roma. Kaisar Nero
melakukan pembantaian manusia pada malam hari. Ia mengadakan pesta yang
diterangi dengan cahaya dari tubuh para pengikut Kristen yang dibakarnya
hidup-hidup. Ia menggantung orang-orang di tiang. Lokasi pestanya di Taman
Vatikan.
Begitu Nero yang masih belia itu naik takhta,
dia sudah menganggap Britannicus sang adik sebagai musuh bebuyutan. Pada
kesempatan sebuah pesta kerajaan, dia berhasil meracuni Britannicus yang masih
berusia 14 tahun dengan arak beracun. Ketika pesta sedang berlangsung, pada
saat adiknya sekarat, Nero tetap dengan asyik menikmati hidangan, sambil
menjelaskan dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. "Ini hanyalah
penyakit ayan yang sedang kumat saja," katanya yang membuat para tamu di
pesta ini ketakutan.
Agrippina, sang ibu yang juga gila kekuasaan,
sering mengatasnamakan Nero untuk melakukan tindakan kekerasan dan acap kali
tampil dengan kedudukannya bagai seorang ratu. Ini membuat Nero sangat marah.
Disebabkan karena takut pada suatu hari kekuasaan di tangannya akan direbut
oleh sang ibu, maka dia berniat menghabisinya. Dia pun merencanakan sebuah
intrik jahat lalu menciptakan sebuah insiden kapal tenggelam untuk membunuh
ibunya, tetapi ibunya berhasil berenang sampai pantai, serta mengutus seorang
untuk mengirim surat. Ketika Nero menerima surat dan berbicara dengan pengantar
surat itu, dengan diam-diam dia menaruh sebilah belati di atas tanah dan
melaporkan pada pengawalnya bahwa ibunya mengirim seseorang untuk membunuhnya.
Ini dijadikan alasan untuk membunuh ibunya sesuai dengan fakta yang ada.
Agrippina pun menerima balasan yang setimpal untuk perbuatan jahatnya selama
ini.
Nero bahkan memukul hingga mati istrinya yang
sedang hamil, ketiga istrinya dibunuh satu per satu. Istri keduanya bernama
Bobia dibunuh karena mengeluh Nero pulang kemalaman. Istri ketiganya Statilia
yang didapatkan dengan membunuh suaminya, tak lama kemudian pun dibunuh oleh
Nero. Ia pun perintahkan gurunya untuk bunuh diri, sebab Nero berpendapat bahwa
sang gurunya itu mencoba mendominasi dirinya. Setelah itu, Nero pun kehilangan
kontrol diri dan berbuat sewenang-wenang serta berfoya-foya, tenggelam dalam
kemewahan, berpesta pora serta memboroskan uang dengan seenaknya saja.
Ketika itu, daerah kekuasaan Nero sangatlah
luas, membentang mulai dari bagian utara daerah Britania selatan hingga ke
selatan daerah Maroko, daerah timur Atlantik hingga barat laut Kaspia
sedemikian kuat penampilan luarnya. Namun Roma justru ada di pusat dari seluruh
negara imperialis itu, dan Nero pun memegang tampuk kekuasaan secara total,
segala kekuasaan negara berada di tangan sang kaisar seorang. Satuan tentara
Roma adalah basis dari kekuasaannya. Rakyat tak punya hak bicara, lembaga
tinggi negara sepertinya hanya nama saja. Kaisar ialah penguasa tertinggi,
hukum dan segala perangkatnya ada dalam genggamannya. Nasib orang di seluruh
negeri tergantung pada suka atau tidaknya sang kaisar seorang.
Pada saat Nero mewarisi takhta kerajaan, Roma
waktu itu masih tergolong sangat makmur, termasuk bagian dari tahun yang paling
makmur dan jaya di sejarah Roma. Di awal beberapa tahun sejak kekuasaan yang
diserobot oleh Nero pun masih berlangsung sedikit sisa kecemerlangan dari
matahari terbenam itu. Sama sekali persis dengan di awal beberapa tahun ketika
Jiang Zemin menyerobot kekuasaan tertinggi di negeri China.
Akan tetapi kecemerlangan segemerlap apa pun
tetaplah sebuah kecemerlangan yang tersisa, ditambah lagi dengan sifat bawaan
Nero yang jahat dan tidak terkendali, maka dengan cepat sekali mengembang, jadi
saat-saat yang baik pun layu dengan cepat seperti bunga. Dia mulai
menghambur-hamburkan uang seenaknya, berjudi gila-gilaan, ketika bepergian dan
piknik dia dikawal oleh 1.000 iring-iringan kereta mewah. Ketika kas negara
kosong, dia menyita harta kekayaan pribadi, membunuh puluhan tuan tanah Spanyol
dan Afrika Utara dan merampas harta-kekayaan mereka. Dia pun menghapus
pengurangan pajak serta subsidi terhadap fakir miskin dan orang jompo yang
diterapkan pada masa lalu, menguasai paksa harta kekayaan kuil dan
mendepresiasi nilai mata uang. Nero bahkan memaksa istri para anggota parlemen
imperialis yang mengenakan perhiasan emas dan perak itu agar masuk ke
gelanggang gulat untuk saling bunuh-membunuh, sedangkan dia sendiri justru
menyaksikan adegan gumulan berdarah dan gila-gilaan itu.
Nero merasa dirinya seorang yang serba bisa,
baik melukis, mengukir, bernyanyi, bermain musik, maupun bahasa Yunani dan
bahasa Latin serta berpuisi dan sebagainya, dikuasai semua. Dia sudah memulai
pertunjukan terbukanya pada tahun 59 M. Sering mengundang rakyat kecil untuk
menyaksikan bermain musik dan nyanyi di teater terbuka pada taman istana atau
di jalanan. Pada hari raya, dia menyelenggarakan sebuah pertunjukan sangat
mewah di dalam istana, dia sendiri mengadakan pertunjukan di atas panggung
sebagai seorang penyair, penyanyi, konduktor bahkan pegulat. Ketika dia
mengadakan pertunjukan di teater, pintu teater pun ditutup rapat olehnya,
penonton tidak diizinkan pulang sebelum pertunjukan selesai. Bagi beberapa
penonton yang tak tahan terhadap suara nyanyian yang memekakkan telinga dan
pertunjukannya yang jelek itu, mereka satu per satu terpaksa kabur dengan
meloncat tembok. Merasa tidak mendapat pendengar yang setia di Roma, maka Nero
mengadakan dan memimpin rombongan teater untuk pertunjukan keliling di Yunani
selama setahun, orang-orang Yunani menikmatinya. Karena kegembiraan sesaat, dia
pun menganugerahkan hak otonomi kepada Yunani, karena orang Yunani mengerti dan
bisa menikmati keseniannya. Karena berfoya-foya terhadap pemakaian uang dalam
jumlah sangat besar, negara imperialis Roma yang tampak kuat dan besar dari
luar itu dalam waktu cepat sudah mengeruk habis kas negara.
Pada malam tanggal 18 Juli 64 M, terjadi
kebakaran besar di Roma. Berlangsung selama 39 hari, 3 daerah musnah terbakar,
7 rusak berat, sisanya 4 dari 14 daerah seluruhnya. Rakyat Roma mengalami
bencana yang tak pernah ada sebelumnya, mereka luntang-lantung tak bertempat
tinggal. Ada yang melihat, dalam menghadapi kondisi lautan api yang menelan
seluruh kota itu. Pada waku itu, Nero malah berpakaian opera, berdiri di menara
dan memetik instrumen Lira, melantunkan sebuah balada yang ada hubungannya
dengan musnahnya Troya, menikmati pemandangan kobaran api yang takjub. Ada
rumor di sana-sini mengatakan bahwa Nero-lah yang melakukan pembakaran secara
sengaja waktu itu, Nero-lah yang memerintahkan pembakaran terhadap Roma supaya
mendirikan sebuah kota baru.
Sungguh, setelah kebakaran besar terjadi, ia
tidak pergi menolong rakyat korban bencana itu, malah sibuk melakukan
pembangunan besar-besaran dan membuat Domus Aurea atau 'rumah emas' untuk
pribadi. Dekorasi dalam istananya dihiasi dengan emas, intan permata dan
mutiara serta bingkai langit-langit yang ditatah gading, langit-langit yang
bisa berputar itu bisa menaburkan bunga dan menyemperotkan parfum ke arah
bawah, istananya itu terletak di tempat paling sentral kota Roma, beraneka
bunga, pemandangan gunung dan danau, kolam mandi di dalamnya dapat mendatangkan
air laut sekaligus air dari mata air. Ketika bangunan mentereng dan mewah ini
rampung dibangun, Nero memuji dan mengagumi dengan gembira ria: "Ini baru
mirip tempat tinggal manusia."
Nero memilih penganut Nasrani untuk mengemban
tanggung jawab untuk menghadapi kecaman dari kebakaran yang disengaja. Pertama-tama
ia menuduh merekalah yang melakukan pembakaran secara sengaja, lalu menuduh
mereka "bermusuhan terhadap umat manusia". Karena kebanyakan penganut
Nasrani waktu itu orang miskin semuanya, budak belian, dan orang asing, jadi
untuk menindas mereka itu sangatlah mudah. Tapi justru karena Nero dalam
kedudukan yang sangat kuat dan lupa daratan, tiba-tiba di Italia bagian tengah
kota Napoli muncul seorang ahli kebatinan, dia beteriak dengan keras dari bawah
tembok dan mencela Nero adalah seorang raja lalim serta bengis dan juga
mengatakan bahwa arwah Britannicus tidak akan membiarkan selamanya. Akhirnya,
ahli kebatinan ini dijebloskan ke dalam penjara, setiap orang mengira bahwa
pasti dia bakal mati karena siksaan berat, namun siapa pula bakal tahu bahwa
dia adalah seorang yang sakti, tak sampai ½ hari (12 jam) sudah lolos dari
penjara. Sejak saat itu, orang Roma menyebutnya seorang ahli kebatinan pembalas
dendam.
Nero yang marah besar (murka) karena
dipermalukan, mengutus orang untuk menangkapnya ke semua tempat, namun ternyata
gagal. Setahun kemudian, ahli kebatinan ini meninggal dunia, bukan karena
dibunuh tetapi karena sakit, kalimat terakhir yang diucapkan sebelum meninggal:
"Kekuasaan Kaisar Nero pasti tidak lebih dari 15 tahun." Kala itu
kekuasaan Nero sudah memasuki 11 ½ tahun. Sepeninggalnya ahli kebatinan itu,
Nero pun berubah menjadi orang yang lebih curiga, kalau melakukan sesuatu pun
lebih gila-gilaan lagi. Dia membunuh orang terus-menerus, dia tega melakukan
cara sekejam apa pun apalagi terhadap kaum Nasrani itu. Akan tetapi menurut
informasi pengawal yang dekat dengan Nero mengatakan bahwa Nero sering
mendengar suara teriakan arwah Bunitanix, dia takut bercampur benci, jika
melakukan sesuatu lebih dipenuhi dengan emosi sesat.
Pembunuhan secara kejam oleh Nero akhirnya
menimbulkan tantangan rakyat Roma. Saat itu Nero terus-menerus timbul rasa
curiga terhadap orang di sekelilingnya, dia memastikan ada sebuah komplotan
makar sedang kontra dengannya. Dalam kondisi yang teramat takut serta mata
gelap itu, dia pun mengumumkan bahwa seluruh negeri dalam kondisi darurat
perang. Seluruh Roma diselimuti suasana ketakutan. Begitu dia menyebut nama
seseorang, maka orang tersebut akan dihukum mati. Banyak anggota parlemen,
birokrat senior, tokoh terkemuka serta petugas pasukan pengawal pun dihukum
mati. Ada beberapa orang dipenggal kepalanya, beberapa lagi diperintahkan untuk
bunuh diri, dan sejumlah lagi dibelah urat nadinya. Bahkan guru dan Shonyka
sang penasihat pun dipotong kedua tangannya.
Kemewahan Nero yang luar biasa, kekuasaan yang
mengerikan, pembunuhan secara gila-gilaan dan penindasan terhadap kaum Nasrani
itu, membangkitkan rasa kontra bagi lembaga tinggi negara. Tak seorang rakyat
yang tidak terasa benci terhadapnya. Dari kalangan rakyat kecil, tentara, orang
terkemuka dan terpandang hingga pejabat tinggi, serta parlemen, tidak tahan
terhadap pemerintahan tirani itu. Akhirnya pada 68 M, gubernur jenderal
sementara dari Provinsi Kaolu dan Spanyol mengimbau agar rakyat bangkit untuk
memberontak. Sementara pasukan Roma memberontak di daerah Kaolu, bahkan induk
pasukan di Spanyol dan Afrika Utara nan jauh itu pun menyusul memberontak,
pasukan-pasukan yang ada di masing-masing daerah menuju ke Roma, pejabat daerah
pun satu per satu mengumumkan pembelotannya terhadap Nero. Lembaga tinggi
negara di Roma menghapuskan takhta kerajaan Nero, memproklamirkan bahwa dia itu
ilegal, sekaligus merupakan musuh rakyat.
Pasukan tentara beserta rakyat mengepung
istana hendak memberi perhitungan dengan Nero. Sampai saat itu, Nero sudah
ditentang oleh rakyatnya dan ditinggalkan pengikutnya. Dia minta tolong pada
pengawal istana untuk membantunya dalam pelarian, tetapi ditolak. Dia menulis
sepucuk surat agar rakyat mengampuninya, akan tetapi ia tidak berani keluar
dari istana untuk menyerahkannya. Dia tahu bahwa dosanya sudah amat berat,
akhirnya pada malam hari dia dengan mengenakan mantel tanpa lengan melarikan
diri dengan menunggangi kuda bersama empat orang jongos ke tempat liar.
Akhirnya Nero kabur di sebuah rumah mantan
budak istananya. Dia duduk di ruang bawah dan membiarkan budaknya menggali
sebuah kubur di belakang rumah untuknya. Jongosnya menggali liang kubur
buatnya, Nero yang enggan berpisah itu terus berkata: "Dunia ini telah
kehilangan seorang seniman yang hebat!" Saat itu pesuruhnya datang memberi
tahu: Lembaga tinggi negara mengumumkan bahwa Nero itu adalah musuh rakyat,
serta mengeksekusi mati Nero dengan cara leluhur yakni hukuman mati dengan
cambuk.
Nero tahu bahwa ini berarti akan melucuti
bajunya, lalu memakai pasung kayu untuk menopang tengkuknya dan diayunkan
cambuk oleh sang algojo, hingga akhir napasnya. Tak terpikirkan bahwa Nero yang
selalu kejam sejak dulu malah ketakutan setengah mati oleh siksaan kejam itu,
dia merasa lebih baik bunuh diri untuk mengurangi penderitaan, lalu memutuskan
untuk melakukan itu.
Sebelum ajal tiba, Nero pun tak lupa untuk
mempertunjukkan kebolehannya, dia pegang belati tajam lalu mengayunkan ke sana
kemari, tetapi tidak berani menusuk tenggorokannya sendiri. Sebab dia tidak
punya keberanian, lalu dengan tak diduga-duga dia mohon pada seorang jongos
untuk bunuh diri lebih duluan, memperagakan untuknya, tetapi ditolak. Kaisar
yang lalim itu sebenarnya seorang pengecut bernyali kecil.
Pada saat menjelang fajar, tiba-tiba dari
kejauhan sana terdengar suara teriakan manusia dan pekikan kuda, karena tempat
persembunyiannya telah diketahui. Nero yang sudah putus asa itu meletakkan
sebilah belati ke tangan seorang jongos, lalu menggenggam tangan sang jongos
untuk menusukkannya ke leher dia sendiri. Dia berteriak dengan kencang sekali
dan tersungkur ke dalam genangan darah, tamat sudah riwayatnya. Nero meninggal
pada usia 31 tahun, dia bertakhta 14 tahun.
Soal Esai
1. Apakah kebijakan Nero yang tiranis dan kejam
dapat dikaitkan dengan latar belakang keluarganya atau faktor-faktor lain? Jelaskan dengan argumentasi yang logis dan berdasarkan
data!
2. Bagaimana Nero berhasil mempertahankan
kekuasaannya selama 14 tahun meskipun kebijakannya sangat kontroversial?
3. Apakah ada konflik kepentingan antara
kebijakan Nero dan kepentingan rakyat Roma? Jelaskan dengan argumentasi yang logis
dan berdasarkan data!
4. Bagaimana peran agama dan kepercayaan dalam
kebijakan Nero, terutama terkait penindasan terhadap umat Kristen?
5. Apakah kejatuhan Nero dapat dianggap sebagai
hasil dari kebijakan internal atau faktor-faktor eksternal? Jelaskan dengan
argumentasi yang logis dan berdasarkan data!
6. Bagaimana kebijakan Nero mempengaruhi struktur
sosial dan ekonomi Roma?
7. Bagaimana Nero menggunakan propaganda dan
manipulasi informasi untuk mempertahankan kekuasaannya?
8. Apakah kebijakan Nero dapat dianggap sebagai
contoh klasik dari pemerintahan otoriter? Jelaskan dengan argumentasi yang
logis dan berdasarkan data!
9. Bagaimana kebijakan Nero mempengaruhi
perkembangan hukum dan keadilan di Roma?
10. Bagaimana struktur kekuasaan Nero mempengaruhi
dinamika sosial dan politik di Roma, dan apa implikasinya terhadap teori-teori
politik modern?

Comments
Post a Comment